Kasihan putri kecil
Wajahnya memurung
Wajahnya berharu
Apa daya harus ku tengok
Apa selayaknya menyalahkan malam?
Aku hanya si kunyuk menanti bulan yg pergi
Menciumi bunga yg tak bersalah
Lekas kemana bulan?
Enggan juga menjemput di sudut arah
Berapa lama ku lihat dia bercumbu
Sedang putri bersedih. . .
Senin, 16 Mei 2011
Jumat, 13 Mei 2011
Bayang
Lilin teman malam
Sebagai teman melihat tanah
Kala hari "senang" datang
Mengaku ia bagai Tuhan
Ialah api yg samar
Ialah air yg membakar
Kembalilah tetap memandang langit
Lilin kecil akan menyala
Lilin kecil berjabat batinmu
Tampar bayang-bayang
Sebelum terjatuh dilubang menganga
Bayang
Bayang
Dan lilin akan padam
Sebagai teman melihat tanah
Kala hari "senang" datang
Mengaku ia bagai Tuhan
Ialah api yg samar
Ialah air yg membakar
Kembalilah tetap memandang langit
Lilin kecil akan menyala
Lilin kecil berjabat batinmu
Tampar bayang-bayang
Sebelum terjatuh dilubang menganga
Bayang
Bayang
Dan lilin akan padam
Rabu, 04 Mei 2011
Binatang Ternak
Binatang ternak berucap
Berlalu, lalu, lalu
Setebal bumi mukanya
Ucapnya bodoh
Ucapnya hujat penghanyut
Siapa ia ku bertanya?
Atau apakah ia?
Sebayanya tau ia binatang ternak...
Hanya binatang ternak
Menaunginya
Menaungi cacat sekujurnya
Hatinya berkabut
SAdarnya terrenggut
Binatang ternak berucap
Yang malang terangkap...
Berlalu, lalu, lalu
Setebal bumi mukanya
Ucapnya bodoh
Ucapnya hujat penghanyut
Siapa ia ku bertanya?
Atau apakah ia?
Sebayanya tau ia binatang ternak...
Hanya binatang ternak
Menaunginya
Menaungi cacat sekujurnya
Hatinya berkabut
SAdarnya terrenggut
Binatang ternak berucap
Yang malang terangkap...
Bantaian Dinda
Sebenih embun, tanyakan
Pada hujan didaun-daun
Catatan yg sejenak berhambur
Bagaimana harus ku tepis
Tuhan, sprtinya ia tak singgahi gubuk lalu
Suaranya angkuh
Akankah layu?
Atau puisi akan lebur pada kutu-kutu?
Ku lirik bunga meludah
ku peluk angin memaki
Hari tlah petang
Dan tampak secarik bantaian dindaku
Pada hujan didaun-daun
Catatan yg sejenak berhambur
Bagaimana harus ku tepis
Tuhan, sprtinya ia tak singgahi gubuk lalu
Suaranya angkuh
Akankah layu?
Atau puisi akan lebur pada kutu-kutu?
Ku lirik bunga meludah
ku peluk angin memaki
Hari tlah petang
Dan tampak secarik bantaian dindaku
Harapan Buta
Din dinda oh dindaku
Anak tangan menari diwajah acoustikku
Berduyunan peri-peri menebar pd ratu
Bak altar diteras nirwana
Tapi...
Sayang...
Aku lelah bermimpi
Terlalu jenuh berpangku tangan
Terlalu tua bernyanyi angan
Nyatanya angin ku sentuh
Nyatanya cahaya ku peluk
Lama kudamba-damba pelangi
Namun hujan enggan berhenti
Anak tangan menari diwajah acoustikku
Berduyunan peri-peri menebar pd ratu
Bak altar diteras nirwana
Tapi...
Sayang...
Aku lelah bermimpi
Terlalu jenuh berpangku tangan
Terlalu tua bernyanyi angan
Nyatanya angin ku sentuh
Nyatanya cahaya ku peluk
Lama kudamba-damba pelangi
Namun hujan enggan berhenti
TERBANG
Malam indah
Disinggah altar semesta
Tampak alam diam
Tampak alam begitu tenang
Gemintang tak keluh menari
Aroma kesejukan dibawa semilir berhembus
Kuandai gelappun menuai merdu
Kuandai senyappun meminang sendu
Seraya berterbangan peri2 penghibur
Berkelipan saling menari lilin kecil
Cahayanya tampak samar
Membawaku terbang
Seraya ku terbang. . .
Disinggah altar semesta
Tampak alam diam
Tampak alam begitu tenang
Gemintang tak keluh menari
Aroma kesejukan dibawa semilir berhembus
Kuandai gelappun menuai merdu
Kuandai senyappun meminang sendu
Seraya berterbangan peri2 penghibur
Berkelipan saling menari lilin kecil
Cahayanya tampak samar
Membawaku terbang
Seraya ku terbang. . .
Lagu Purnama
Lagu purnama
Tautan masa tawa
Buang siulan merana
Bahtera tak terbina
Tabir buka kelabu
Bangunlah mimpi-mimpi
LEnyaplah sunyi-sunyi
Hibur aku sang peri
Layang-layang ku layangkan
Bunga-bunga ku petik mekar
Nyanyikan lagu purnama
Biar semua kian berakhir
Tautan masa tawa
Buang siulan merana
Bahtera tak terbina
Tabir buka kelabu
Bangunlah mimpi-mimpi
LEnyaplah sunyi-sunyi
Hibur aku sang peri
Layang-layang ku layangkan
Bunga-bunga ku petik mekar
Nyanyikan lagu purnama
Biar semua kian berakhir
Mendung Buta
Siang ini tampak mendung berduyun
Menuai gelap sekumpulannya
Jadi gelap menjadi langit
Namun tak melukis mata tak tampak
Ia tak melihat hati yang tertawa
Dari semalam terbang
Menerjang trali-trali bisu
Layak burung melepas sangkar
Pagi ini bukan malam
Namun mendung berduyun datang
Menjadi gelap
Tak selayak lahatku riang
Menuai gelap sekumpulannya
Jadi gelap menjadi langit
Namun tak melukis mata tak tampak
Ia tak melihat hati yang tertawa
Dari semalam terbang
Menerjang trali-trali bisu
Layak burung melepas sangkar
Pagi ini bukan malam
Namun mendung berduyun datang
Menjadi gelap
Tak selayak lahatku riang
Menanti Putri
Andaikan sejauh anganku kau baca
Mungkin kau jenguk jemariku yg kosong
Malam ini mengingatkan jikalau aku harus bertahan
Ku jenguk bintang yang mungkin lelap
Pandanganku kedepan hanya sekumpulan kunang-kunang berbaris
Seraya berparade menertawaiku yg geming
Ku tatap saja ia malu
Ku merasa begitu
Karna ku hanya merangkak
Sedang ia bergaun sutra
Ku lihat sekeliling derap yg demikian beramai
Namun sesederhana aku hanya berbaju rombeng
ohhh...
Andaikan sejauh anganku kau baca
Mungkin kau jenguk jemariku yg kosong
Mungkin kau jenguk jemariku yg kosong
Malam ini mengingatkan jikalau aku harus bertahan
Ku jenguk bintang yang mungkin lelap
Pandanganku kedepan hanya sekumpulan kunang-kunang berbaris
Seraya berparade menertawaiku yg geming
Ku tatap saja ia malu
Ku merasa begitu
Karna ku hanya merangkak
Sedang ia bergaun sutra
Ku lihat sekeliling derap yg demikian beramai
Namun sesederhana aku hanya berbaju rombeng
ohhh...
Andaikan sejauh anganku kau baca
Mungkin kau jenguk jemariku yg kosong
Minggu, 24 April 2011
Pangkuan Bunda
Untuk Bunda...
Sejuta bintang untuk orang yang berjasa
Kala tangisan tersedu
Yang menangis tersedu-sedu
Bundaku...
Oh Bundaku...
Timang-timang pertama
Kau ciumi malam-malam syair
Ranjang kecil terbit ku bisu
Hanya indra ku
Cinta ku titipkan pada cahaya
Senada merengek manja
Bunda...
Air terbit meresap
Pada jantung meresap
Risalahku
Kala dipangkuan bundaku...
(Catatan Si Fakir)
Sejuta bintang untuk orang yang berjasa
Kala tangisan tersedu
Yang menangis tersedu-sedu
Bundaku...
Oh Bundaku...
Timang-timang pertama
Kau ciumi malam-malam syair
Ranjang kecil terbit ku bisu
Hanya indra ku
Cinta ku titipkan pada cahaya
Senada merengek manja
Bunda...
Air terbit meresap
Pada jantung meresap
Risalahku
Kala dipangkuan bundaku...
(Catatan Si Fakir)
Sabtu, 23 April 2011
Senyum???
Bintang kulirik
Atap tertawa melihatku
Cicak berlari-lari
Pada dinding berandai-andai
Gelap kacaku meminang
Sangkar usang di geming
Bulan angkuh
Kulihat terbaring pilu
Begitu si bodoh bernyanyi
Termalu
Termalu sungguh pekat
Suara katak terlampau merdu
Lalu diamana senyumku???
Atap tertawa melihatku
Cicak berlari-lari
Pada dinding berandai-andai
Gelap kacaku meminang
Sangkar usang di geming
Bulan angkuh
Kulihat terbaring pilu
Begitu si bodoh bernyanyi
Termalu
Termalu sungguh pekat
Suara katak terlampau merdu
Lalu diamana senyumku???
Jumat, 15 April 2011
~Jane~
Untuk Suga...
Jane...
Acuhkan cemoh, sayang
Panggil mentari
Petik air mengalir
Jane...
Pakai pakaianmu, sayang
Bukan sekujurmu meludah
Jangan takut
Jangan malu Jane
Berdiri duniamu baru
Ini rumahmu
Rumah kami pula
Selamat datang jane
Lambai dunia lampau
Jane...
Acuhkan cemoh, sayang
Panggil mentari
Petik air mengalir
Jane...
Pakai pakaianmu, sayang
Bukan sekujurmu meludah
Jangan takut
Jangan malu Jane
Berdiri duniamu baru
Ini rumahmu
Rumah kami pula
Selamat datang jane
Lambai dunia lampau
Rabu, 13 April 2011
Penggembala Usang
Anak lereng yang lugu
Hitam kumal
Berbaju rombeng.
Lihat dia kudisan
Kurus berambut ikal
Berjalan...
Dijuluki ia teman para domba yg bodoh
Lihat dia nimang
Bocah cacat
Tatapnya tak berhenti pada langit
Dia nimang...
Si gembala domba yang usang
[Peri Dan Gembala Usang]
Hitam kumal
Berbaju rombeng.
Lihat dia kudisan
Kurus berambut ikal
Berjalan...
Dijuluki ia teman para domba yg bodoh
Lihat dia nimang
Bocah cacat
Tatapnya tak berhenti pada langit
Dia nimang...
Si gembala domba yang usang
[Peri Dan Gembala Usang]
Jumat, 08 April 2011
~Lambai Dukaku, Pak~
Untuk mbah marijan
Kami berlambai duka Pak...
Dengan pipih salam tertitip serpihan pasir...
Mengenang sketsa tawa kau...
Sebelum telaga api menyurak keras lalu...
Namun hendak tak tersentu tangan...
Akan tetapi tuhan menitipkan sebuah amanat kcil...
Tuk cerita mata kedepan...
Rahasia putih yg menyeru...
Untuk para pemimpi seperti arahan kami...
Selamat membingkai tawa pak...
Kami saksi sujudmu diselimut pasir lampau...
30 Oktober 2010
Kami berlambai duka Pak...
Dengan pipih salam tertitip serpihan pasir...
Mengenang sketsa tawa kau...
Sebelum telaga api menyurak keras lalu...
Namun hendak tak tersentu tangan...
Akan tetapi tuhan menitipkan sebuah amanat kcil...
Tuk cerita mata kedepan...
Rahasia putih yg menyeru...
Untuk para pemimpi seperti arahan kami...
Selamat membingkai tawa pak...
Kami saksi sujudmu diselimut pasir lampau...
30 Oktober 2010
~Penantian Senja~
Lelaki menoleh pipi lembayung senja...
Dia terjatuh pada pasir-pasir pekat di ujung na'as...
Titih-titih berkali-kali lepas dari daunnya menyerpih terjatuh...
Sekujur mata mimpi buruk di pagi itu...
Lelaki itu menyanyi sumbam...
Perlahan enyah menangkup daun senja yang kosong...
Seperti lelaki yang buta akan mata angin ...
Seperti lelaki yang pincang dalam langkah...
Tiada angan para cahaya selain cerita merunduk malu...
Selain telunjuk menghinjak-hinjak senyumnya...
Ia pergi dalam pengasingan masa...
"Senja.. Senja... senja...
Aku akan duduk selamanya menantimu...
Aku tak akan beranjak dari sini hingga kau datang dalam nyata...
Aku perih teramat layu senja...
Aku ingin selayak kau yang di kagum-kagumi...
Aku ingin kau senja"... Seakan menjerit pada deru ombak menggenang mata kakinya...
Senja... pijaki ia yang pilu mata batinnya...
Lelaki pemimpi dalam penantian indah senja...
21 Januari 2011
Dia terjatuh pada pasir-pasir pekat di ujung na'as...
Titih-titih berkali-kali lepas dari daunnya menyerpih terjatuh...
Sekujur mata mimpi buruk di pagi itu...
Lelaki itu menyanyi sumbam...
Perlahan enyah menangkup daun senja yang kosong...
Seperti lelaki yang buta akan mata angin ...
Seperti lelaki yang pincang dalam langkah...
Tiada angan para cahaya selain cerita merunduk malu...
Selain telunjuk menghinjak-hinjak senyumnya...
Ia pergi dalam pengasingan masa...
"Senja.. Senja... senja...
Aku akan duduk selamanya menantimu...
Aku tak akan beranjak dari sini hingga kau datang dalam nyata...
Aku perih teramat layu senja...
Aku ingin selayak kau yang di kagum-kagumi...
Aku ingin kau senja"... Seakan menjerit pada deru ombak menggenang mata kakinya...
Senja... pijaki ia yang pilu mata batinnya...
Lelaki pemimpi dalam penantian indah senja...
21 Januari 2011
MENYADARI PERIANG
menyadari periang
tampak langkah yang muram wajahnya
mungkin perkataan itu terlalu dia cernah
hingga catatannya tak tampak
seperti dia bisu dalam pasir
kenaliku dia berlari
tanpa sapa palingpun tinggalkan aku yang hendak berjabat tangan
kumohon seperti kau periang
kaji dulu kata" ini
kau terlalu baik mengenalkanku pada gemintang
kau tunjuk satu saja diujung telunjukmu
wajahku memerah lalu
kau tak juga berdiri dihadapanku
wahai kau periang
aku hanya bertutur tentang badai yg tak nyata
bukan ejek hinjakimu
dimana kau periang...
kembalilah... kembalilah kawan...
(Catatan Si faqir) 04 Januari 2011...
tampak langkah yang muram wajahnya
mungkin perkataan itu terlalu dia cernah
hingga catatannya tak tampak
seperti dia bisu dalam pasir
kenaliku dia berlari
tanpa sapa palingpun tinggalkan aku yang hendak berjabat tangan
kumohon seperti kau periang
kaji dulu kata" ini
kau terlalu baik mengenalkanku pada gemintang
kau tunjuk satu saja diujung telunjukmu
wajahku memerah lalu
kau tak juga berdiri dihadapanku
wahai kau periang
aku hanya bertutur tentang badai yg tak nyata
bukan ejek hinjakimu
dimana kau periang...
kembalilah... kembalilah kawan...
(Catatan Si faqir) 04 Januari 2011...
GEMBALA LAPAR
Sebut aku gembala lapar
Mencari makan
Menanti sisa-sisa tuan
Aku hanya gembala usang
Diantara raja-raja bangsawan
Diantara raja-raja yang lapar
Aku berdiri pada sekumpulan domba-domba hinaan
Diantara emas belukar sang raja-raja lapar
Sang raja penjilat keringat gembala usang
09-april-2011
Mencari makan
Menanti sisa-sisa tuan
Aku hanya gembala usang
Diantara raja-raja bangsawan
Diantara raja-raja yang lapar
Aku berdiri pada sekumpulan domba-domba hinaan
Diantara emas belukar sang raja-raja lapar
Sang raja penjilat keringat gembala usang
09-april-2011
TAMAN BELAJAR
Anak-anakku
Jiwanya hari esok yang indah
raganya bunga mekar
Hatinya slalu haus jutaan abjad
Anak-anakku menuai
Ia menuai berlian
Menggali cahaya hari-hari
Menggali cahaya berlari-lari
Anakku anak yang kuat
Inginnya sealam...
Sejauh pandang indranya
Sejauh mata bintang-bintangnya
Anakku...
Di taman belajarku....
Jiwanya hari esok yang indah
raganya bunga mekar
Hatinya slalu haus jutaan abjad
Anak-anakku menuai
Ia menuai berlian
Menggali cahaya hari-hari
Menggali cahaya berlari-lari
Anakku anak yang kuat
Inginnya sealam...
Sejauh pandang indranya
Sejauh mata bintang-bintangnya
Anakku...
Di taman belajarku....
Rabu, 06 April 2011
SAKURA MALANG
Lalu lalang semi berganti
Daun gugur lupa akan pohon-pohon menangis
Sakura itu bersedih
Sakura itu hanya menatap bayangan air
Hujan
Basuh aku dengan indah
Sakura ini telah rapuh
Sakura ini telah berlalu semi
Dia kedinginan pada belaian malam dibadai salju
Dia kedinginan.
Hatinya menggigil dalam ungkapan air sedih
Hujan
Kau pun tak brsahabat
Kau mencaci maki wajahnya yang muram
Kau tertawa pada indra yang lebam
Kalian puas rupanya...
Sakura telah pulang membawa luka...
Daun gugur lupa akan pohon-pohon menangis
Sakura itu bersedih
Sakura itu hanya menatap bayangan air
Hujan
Basuh aku dengan indah
Sakura ini telah rapuh
Sakura ini telah berlalu semi
Dia kedinginan pada belaian malam dibadai salju
Dia kedinginan.
Hatinya menggigil dalam ungkapan air sedih
Hujan
Kau pun tak brsahabat
Kau mencaci maki wajahnya yang muram
Kau tertawa pada indra yang lebam
Kalian puas rupanya...
Sakura telah pulang membawa luka...
KEMBALI TATAP PAGI
Pagi aku rindu kau
Anakmu sudah tersenyum meminang pepohonan yg jenuh
Perlhan berjalan menuju puncak
Kini pagi, aku melihatmu
Aku tertidur panjang
Aku lupa akan langit esok kian tertawa
Pagi aku ingin bertemu
Kini mataku tak terpejam berjalan
Aku sudah melihat kau
Aku sudah merasakan hangat anakmu
Peluk aku...
Peluk aku yang berlinang luka sekujur tubuh
Kini pagi, aku melihatmu...
Anakmu sudah tersenyum meminang pepohonan yg jenuh
Perlhan berjalan menuju puncak
Kini pagi, aku melihatmu
Aku tertidur panjang
Aku lupa akan langit esok kian tertawa
Pagi aku ingin bertemu
Kini mataku tak terpejam berjalan
Aku sudah melihat kau
Aku sudah merasakan hangat anakmu
Peluk aku...
Peluk aku yang berlinang luka sekujur tubuh
Kini pagi, aku melihatmu...
KAMI BUKAN
kami bukan
Kurcaci-kurcaci malang
hay...
tak indah
mencari tuan pun sulit
air demi mentari
hujan memberontak
lalu angin
Petir-petir menampar
anggapan
kita berdiri
kucing betina berlari
itukah kau mencintai kami?????????????????
Kurcaci-kurcaci malang
hay...
tak indah
mencari tuan pun sulit
air demi mentari
hujan memberontak
lalu angin
Petir-petir menampar
anggapan
kita berdiri
kucing betina berlari
itukah kau mencintai kami?????????????????
Selasa, 05 April 2011
NYANYIAN PENYAIR
Dilembah haru mendayu-dayu
Angin tak berkaki acuh menyapa
Dalam renungan bintang bisu
Dalam bingkai bulan waluku
Dia merabah langit
Memeluk isi alam
Merajut alas di ujung kepala bertinta
Dia bernyanyi
Dia menikmati merdunya
Dia memainkan jemarinya
Pada bunga" bermekar ia bernyanyi
Angin tak berkaki acuh menyapa
Dalam renungan bintang bisu
Dalam bingkai bulan waluku
Dia merabah langit
Memeluk isi alam
Merajut alas di ujung kepala bertinta
Dia bernyanyi
Dia menikmati merdunya
Dia memainkan jemarinya
Pada bunga" bermekar ia bernyanyi
ADAKAH INDAH
"Apakah lagu akan tetap merdu dalam nyanyianku?"
Malam itu kubertanya pada angin
Desahnya melaluiku
Aku malu teramat sangat
Mungkin angin tertawa
Mungkin malam terharu
Atau mungkin mereka tak menghiraukan nyanyian" sumbam ini
Lalu lalang bergeming
Tetap aku meninjau bungaku yang bercinta
Semakin sendu
Semakin sendu ia menhinjak riang bintang
Malam itu kubertanya pada angin
Desahnya melaluiku
Aku malu teramat sangat
Mungkin angin tertawa
Mungkin malam terharu
Atau mungkin mereka tak menghiraukan nyanyian" sumbam ini
Lalu lalang bergeming
Tetap aku meninjau bungaku yang bercinta
Semakin sendu
Semakin sendu ia menhinjak riang bintang
RINDU PAGI
Pagi aku rindu kau
Anakmu sudah tersenyum meminang pepohonan yg jenuh
Perlhan berjalan menuju puncak
Kini pagi, aku melihatmu
Aku tertidur panjang
Aku lupa akan langit esok kian tertawa
Pagi aku ingin bertemu
Kini mataku tak terpejam berjalan
Aku sudah melihat kau
Aku sudah merasakan hangat anakmu
Peluk aku...
Peluk aku yang berlinang luka sekujur tubuh
Kini pagi, aku melihatmu...
Anakmu sudah tersenyum meminang pepohonan yg jenuh
Perlhan berjalan menuju puncak
Kini pagi, aku melihatmu
Aku tertidur panjang
Aku lupa akan langit esok kian tertawa
Pagi aku ingin bertemu
Kini mataku tak terpejam berjalan
Aku sudah melihat kau
Aku sudah merasakan hangat anakmu
Peluk aku...
Peluk aku yang berlinang luka sekujur tubuh
Kini pagi, aku melihatmu...
Sabtu, 26 Maret 2011
Tak Tau Alur
Aku tak tau alur
Jalan panjang hanya semu menjadi gelap
Seraya aku tersesat di semak
Apa aku berperasaan padamu?
Atau hanya cincin yang jatuh?
Buktinya kau mesrah
Dan aku terkikis
Lalu apa ini buta?
Lalu dimana aku singgah?
Oh.. aku tak tau alur...
Aku tersesat...
Jalan panjang hanya semu menjadi gelap
Seraya aku tersesat di semak
Apa aku berperasaan padamu?
Atau hanya cincin yang jatuh?
Buktinya kau mesrah
Dan aku terkikis
Lalu apa ini buta?
Lalu dimana aku singgah?
Oh.. aku tak tau alur...
Aku tersesat...
Hanya Bintang Dan Bulan
Bintang...
Malam ini kalian cantik kulihat
Bertabur indah pada gelap
Hatiku jadi setitik embun tersenyum
Tapi bulan...
Wajahmu separuh
Seperti memurung dalam indah para bintang
Apa buat kau memurung?
Atau kau telah dimakan malam?
Atau kah ketakutanmu melebihi aku yg berdiri sendiri?
Oh bulan... Oh bintang
Walau sejauh tak berjabat
Kalian temanku.
Kalian malamku.
Kalian pesan tuhanku.
Malam ini kalian cantik kulihat
Bertabur indah pada gelap
Hatiku jadi setitik embun tersenyum
Tapi bulan...
Wajahmu separuh
Seperti memurung dalam indah para bintang
Apa buat kau memurung?
Atau kau telah dimakan malam?
Atau kah ketakutanmu melebihi aku yg berdiri sendiri?
Oh bulan... Oh bintang
Walau sejauh tak berjabat
Kalian temanku.
Kalian malamku.
Kalian pesan tuhanku.
SENDIRI
Malam ini...
Ku tatap langit penuh jenuh
Bulan yang bersembunyi
Lalu ku cari pada kepalan jemariku
Aku berangan
Aku bersandar pada hawa
Malam ini tetap aku
Seperti kupandang bulan separuh di puncak malam
Malam ini...
Malam ini...
Tetap malam ini...
Aku bicara dengan bisu
Pandanganku hanya pohon yang angkuh
Malam yang kerdil
Dilembah haru malamku
Ku tatap langit penuh jenuh
Bulan yang bersembunyi
Lalu ku cari pada kepalan jemariku
Aku berangan
Aku bersandar pada hawa
Malam ini tetap aku
Seperti kupandang bulan separuh di puncak malam
Malam ini...
Malam ini...
Tetap malam ini...
Aku bicara dengan bisu
Pandanganku hanya pohon yang angkuh
Malam yang kerdil
Dilembah haru malamku
KARMA
Angin datang dan pergi
Menyapu penggembala yang turun
Membelai lalu menampar
Mencinta dan menusuk hati
Hanya tanah dia membentang
jadi alas
bukan sebuah altar surga
Bocah itu berlutut
Mencaci catatan lalu
Memukul dengan kepalan
Hingga berdarah di puncak kejenuhan
Inilah sebuah daun gugur
Emas telah berlalu
Dan kini hanya kering tersapu angin
Menyapu penggembala yang turun
Membelai lalu menampar
Mencinta dan menusuk hati
Hanya tanah dia membentang
jadi alas
bukan sebuah altar surga
Bocah itu berlutut
Mencaci catatan lalu
Memukul dengan kepalan
Hingga berdarah di puncak kejenuhan
Inilah sebuah daun gugur
Emas telah berlalu
Dan kini hanya kering tersapu angin
~Sentuh Dunia Sana~
Sentuh dunia sana
Begitu mencium kasih sayang
Bersayap kokoh
Bukan sebuah sayap-sayap patah
Apa kau tau jeritan sekumpulan semut?
Atau renungan para padi?
Kau hanya tau dirimu hidup
Bukannya kau tersesat dalam labirin tak berdinding
Bukan begitu?
Tinjaulah pelangi yang tersenyum
Jalan pada sebuah bacaan semesta
Mungkin dadamu terlalu membusung
Atau kau memang si kerdil yang tak berfikir...
Begitu mencium kasih sayang
Bersayap kokoh
Bukan sebuah sayap-sayap patah
Apa kau tau jeritan sekumpulan semut?
Atau renungan para padi?
Kau hanya tau dirimu hidup
Bukannya kau tersesat dalam labirin tak berdinding
Bukan begitu?
Tinjaulah pelangi yang tersenyum
Jalan pada sebuah bacaan semesta
Mungkin dadamu terlalu membusung
Atau kau memang si kerdil yang tak berfikir...
Selasa, 22 Maret 2011
Gaun lusuh
Gaun merah terjatuh lusuh
Sudah usang lama menunggu
Dimana kau ratu?
Dimana kau ratu?
Tak sampai hati altar berdebu
Aurora ceritanya mati
Dia mati ditelan angin
Gaunnya tergeletak lusuh
Hanya jejak" tak terlihat
Terhempas entah kemana
Ku menanti didepan gaun lusuh
Sudah usang lama menunggu
Sudah usang lama menunggu
Dimana kau ratu?
Dimana kau ratu?
Tak sampai hati altar berdebu
Aurora ceritanya mati
Dia mati ditelan angin
Gaunnya tergeletak lusuh
Hanya jejak" tak terlihat
Terhempas entah kemana
Ku menanti didepan gaun lusuh
Sudah usang lama menunggu
Kamis, 17 Maret 2011
~Tak Tersampai~
Keyakinanku memuncak
Pelangi mulai jatuh berguguran
Hanya mendung kini sejauh menelusuri
Memangkah terlalu gelap?
Ataukah terlalu ketakutan dengan guntur yang berperang?
Tuhan..
Jika aku tak terbang
Atau tak mampu untuk terbang
Tuntun semilir angin membawaku
Biar aku jauh dibelantara haru
Bermain seruling sendu dengan batu yang ku duduki
Tuhan..
Inikah mimpi buruk yang bengis???..
Pelangi mulai jatuh berguguran
Hanya mendung kini sejauh menelusuri
Memangkah terlalu gelap?
Ataukah terlalu ketakutan dengan guntur yang berperang?
Tuhan..
Jika aku tak terbang
Atau tak mampu untuk terbang
Tuntun semilir angin membawaku
Biar aku jauh dibelantara haru
Bermain seruling sendu dengan batu yang ku duduki
Tuhan..
Inikah mimpi buruk yang bengis???..
~Tak mungkin Tau~
apakah kamu tau...
Kau pasti tidak tau menau tentang warna merah dilangit jasadku...
Kau pasti tak pernah tau tentang pilu...
Sebuah layu ingin merayu...
Namun pandangan ku tentang lilin...
kita berdua sudah terpisah pinang...
Kau tetap tak tau dan tak mau tau...
Hanya kau berikan bunga tak tampak terikat...
Lalu detik berapa kau akan tau?
Biarlah. biar hanya aku yang tau...
Kau pasti tidak tau menau tentang warna merah dilangit jasadku...
Kau pasti tak pernah tau tentang pilu...
Sebuah layu ingin merayu...
Namun pandangan ku tentang lilin...
kita berdua sudah terpisah pinang...
Kau tetap tak tau dan tak mau tau...
Hanya kau berikan bunga tak tampak terikat...
Lalu detik berapa kau akan tau?
Biarlah. biar hanya aku yang tau...
~Tak Terpeluk~
Sepertinya aku menyandang abu
Bersandar pada air diam
Memeluk angin yang jalang
Mataku sepi tak seperti tanganku memegang bulan
Apa daya hanya harapan yang melambai
Kau dik
Misteri terbesar catatanku
Namun sepertinya aku menyandang abu
Semestinya gaun putih tlah kau gena
Namun lain alur belukar
Tak seperti garis tangan tergenggam
Bersandar pada air diam
Memeluk angin yang jalang
Mataku sepi tak seperti tanganku memegang bulan
Apa daya hanya harapan yang melambai
Kau dik
Misteri terbesar catatanku
Namun sepertinya aku menyandang abu
Semestinya gaun putih tlah kau gena
Namun lain alur belukar
Tak seperti garis tangan tergenggam
~Benang Merah Sumbam~
Aku merajut benang merah
Dilembah kalbu
Kusapa terus kau dinda
mungkin...
rumah gubukku kau lekas berlari
ataukah pria ini terlalu dekil?
terlalu berdiri jauh dibawah pohon berlian
kau menjerit
sampai suaramu menyeruak direlung-relung
kau menggantikan mawarmu dengan bangkai musang
berlinang maki tak tampak
namun rasanya sudah membunuh aku
Aku merajut benang merah
Dilembah kalbu
Kusapa terus kau dinda
Dilembah kalbu
Kusapa terus kau dinda
mungkin...
rumah gubukku kau lekas berlari
ataukah pria ini terlalu dekil?
terlalu berdiri jauh dibawah pohon berlian
kau menjerit
sampai suaramu menyeruak direlung-relung
kau menggantikan mawarmu dengan bangkai musang
berlinang maki tak tampak
namun rasanya sudah membunuh aku
Aku merajut benang merah
Dilembah kalbu
Kusapa terus kau dinda
Rabu, 23 Februari 2011
~Lembaran Bisu~
Kereta tak lagi menjemput...
Lagi pilu sejauh pandang melayang...
Kisah klasik daun dan hujan di balik awan...
Hanya embun busuk yang tersisa pada bui...
Masa silam si pejantan rapuh...
Sendiri menunggu kereta yang pergi...
Muram sesekali berteriak merunduk wajahnya...
"Rumput kecil yang tumbuh di padang pasir"...
Sendu-sendu sumbam surau pada hembus angin...
Lalu...
Ia perpangkal lalu...
Otaknya memutar dimensi lalu...
Pada catatan sejuta bunga yang ribas hanya pelukan jenaka...
Ia menyanyi tetap...
Kereta tak kunjung menjemputnya dengan bunga yang sama...
Keluh... Ia melepas jemarinya...
Rabu, 09 Februari 2011
~ Kitab Rabb~
Ku baca di depan nama rabb...
Kulantun pada nafas-nafas berhembus...
Kebenaran alam...
Kebenaran sejauh fikir tiada mampu berdengung...
Lentera kebutaan...
Pada mata-mata yang buta...
Langit tiada tiang menghampar karna rabb...
Tak kenal mati sebuah mushaf suci...
Tak akan terusik indah sastranya...
Ku baca di depan nama rabb...
Kitabku... kehidupan nyata dan ghaibku...Lihat Selengkapnya
Kulantun pada nafas-nafas berhembus...
Kebenaran alam...
Kebenaran sejauh fikir tiada mampu berdengung...
Lentera kebutaan...
Pada mata-mata yang buta...
Langit tiada tiang menghampar karna rabb...
Tak kenal mati sebuah mushaf suci...
Tak akan terusik indah sastranya...
Ku baca di depan nama rabb...
Kitabku... kehidupan nyata dan ghaibku...Lihat Selengkapnya
Rintik Hujan
Hujan-hujan ini...
Lagi-lagi hujan...
Rintik-rintik ini...
Lagi-lagi merintik...
Keheningan tanpa berbunga...
Suasana keruh relung...
Menjadi dingin di bawah genting yang terhujani rintik-rintik...
Hanya nada sederhana menemani terpetik...
Menyendu diharmoni sendu...
Hujan-hujan ini...
Cepat berlalu rintik-rintik ini...
Lagi-lagi hujan...
Rintik-rintik ini...
Lagi-lagi merintik...
Keheningan tanpa berbunga...
Suasana keruh relung...
Menjadi dingin di bawah genting yang terhujani rintik-rintik...
Hanya nada sederhana menemani terpetik...
Menyendu diharmoni sendu...
Hujan-hujan ini...
Cepat berlalu rintik-rintik ini...
Selasa, 01 Februari 2011
~ Surat Untuk Tuhan ~
Ku tulis dari sini...
berkicau burung menangis...
dari awan-awan yg sempat jatuh...
menindih ulat kecil bernadi...
Sepucuk rindu...
yang melangkah dn terbang...
dari kertas lisan hitam...
melihat piano menada di surga...
juga manis-manis berwarna...
aku berpinta...
pintu emas sempat tertutup...
Sepucuk rindu kutulis...
padamu rajaku...
berkicau burung menangis...
dari awan-awan yg sempat jatuh...
menindih ulat kecil bernadi...
Sepucuk rindu...
yang melangkah dn terbang...
dari kertas lisan hitam...
melihat piano menada di surga...
juga manis-manis berwarna...
aku berpinta...
pintu emas sempat tertutup...
Sepucuk rindu kutulis...
padamu rajaku...
Langganan:
Komentar (Atom)
