Senin, 16 Mei 2011

Linglung Yang Bingung

Kasihan putri kecil
Wajahnya memurung
Wajahnya berharu

Apa daya harus ku tengok
Apa selayaknya menyalahkan malam?

Aku hanya si kunyuk menanti bulan yg pergi
Menciumi bunga yg tak bersalah

Lekas kemana bulan?
Enggan juga menjemput di sudut arah
Berapa lama ku lihat dia bercumbu
Sedang putri bersedih. . .

Jumat, 13 Mei 2011

Bayang

Lilin teman malam
Sebagai teman melihat tanah
Kala hari "senang" datang
Mengaku ia bagai Tuhan

Ialah api yg samar
Ialah air yg membakar
Kembalilah tetap memandang langit
Lilin kecil akan menyala
Lilin kecil berjabat batinmu

Tampar bayang-bayang
Sebelum terjatuh dilubang menganga
Bayang
Bayang
Dan lilin akan padam

Rabu, 04 Mei 2011

Binatang Ternak

Binatang ternak berucap
Berlalu, lalu, lalu
Setebal bumi mukanya
Ucapnya bodoh
Ucapnya hujat penghanyut

Siapa ia ku bertanya?
Atau apakah ia?
Sebayanya tau ia binatang ternak...
Hanya binatang ternak

Menaunginya
Menaungi cacat sekujurnya
Hatinya berkabut
SAdarnya terrenggut

Binatang ternak berucap
Yang malang terangkap...

Bantaian Dinda

Sebenih embun, tanyakan
Pada hujan didaun-daun
Catatan yg sejenak berhambur
Bagaimana harus ku tepis

Tuhan, sprtinya ia tak singgahi gubuk lalu
Suaranya angkuh
Akankah layu?
Atau puisi akan lebur pada kutu-kutu?

Ku lirik bunga meludah
ku peluk angin memaki
Hari tlah petang
Dan tampak secarik bantaian dindaku

Harapan Buta

Din dinda oh dindaku
Anak tangan menari diwajah acoustikku
Berduyunan peri-peri menebar pd ratu
Bak altar diteras nirwana

Tapi...
Sayang...
Aku lelah bermimpi
Terlalu jenuh berpangku tangan
Terlalu tua bernyanyi angan

Nyatanya angin ku sentuh
Nyatanya cahaya ku peluk
Lama kudamba-damba pelangi
Namun hujan enggan berhenti

TERBANG

Malam indah
Disinggah altar semesta
Tampak alam diam
Tampak alam begitu tenang

Gemintang tak keluh menari
Aroma kesejukan dibawa semilir berhembus
Kuandai gelappun menuai merdu
Kuandai senyappun meminang sendu

Seraya berterbangan peri2 penghibur
Berkelipan saling menari lilin kecil
Cahayanya tampak samar
Membawaku terbang
Seraya ku terbang. . .

Lagu Purnama

Lagu purnama
Tautan masa tawa
Buang siulan merana
Bahtera tak terbina

Tabir buka kelabu
Bangunlah mimpi-mimpi
LEnyaplah sunyi-sunyi
Hibur aku sang peri

Layang-layang ku layangkan
Bunga-bunga ku petik mekar
Nyanyikan lagu purnama
Biar semua kian berakhir

Mendung Buta

Siang ini tampak mendung berduyun
Menuai gelap sekumpulannya
Jadi gelap menjadi langit
Namun tak melukis mata tak tampak

Ia tak melihat hati yang tertawa
Dari semalam terbang
Menerjang trali-trali bisu
Layak burung melepas sangkar

Pagi ini bukan malam
Namun mendung berduyun datang
Menjadi gelap
Tak selayak lahatku riang

Menanti Putri

Andaikan sejauh anganku kau baca
Mungkin kau jenguk jemariku yg kosong

Malam ini mengingatkan jikalau aku harus bertahan
Ku jenguk bintang yang mungkin lelap
Pandanganku kedepan hanya sekumpulan kunang-kunang berbaris
Seraya berparade menertawaiku yg geming

Ku tatap saja ia malu
Ku merasa begitu
Karna ku hanya merangkak
Sedang ia bergaun sutra

Ku lihat sekeliling derap yg demikian beramai
Namun sesederhana aku hanya berbaju rombeng
ohhh...
Andaikan sejauh anganku kau baca
Mungkin kau jenguk jemariku yg kosong