Minggu, 24 April 2011

Pangkuan Bunda

Untuk Bunda...

Sejuta bintang untuk orang yang berjasa
Kala tangisan tersedu
Yang menangis tersedu-sedu
Bundaku...
Oh Bundaku...

Timang-timang pertama
Kau ciumi malam-malam syair
Ranjang kecil terbit ku bisu
Hanya indra ku
Cinta ku titipkan pada cahaya
Senada merengek manja

Bunda...
Air terbit meresap
Pada jantung meresap
Risalahku
Kala dipangkuan bundaku...

(Catatan Si Fakir)

Sabtu, 23 April 2011

Senyum???

Bintang kulirik
Atap tertawa melihatku
Cicak berlari-lari
Pada dinding berandai-andai

Gelap kacaku meminang
Sangkar usang di geming
Bulan angkuh
Kulihat terbaring pilu

Begitu si bodoh bernyanyi
Termalu
Termalu sungguh pekat
Suara katak terlampau merdu

Lalu diamana senyumku???

Jumat, 15 April 2011

~Jane~

Untuk Suga...

Jane...
Acuhkan cemoh, sayang
Panggil mentari
Petik air mengalir

Jane...
Pakai pakaianmu, sayang
Bukan sekujurmu meludah
Jangan takut

Jangan malu Jane
Berdiri duniamu baru
Ini rumahmu
Rumah kami pula

Selamat datang jane
Lambai dunia lampau

Rabu, 13 April 2011

Penggembala Usang

Anak lereng yang lugu
Hitam kumal
Berbaju rombeng.

Lihat dia kudisan
Kurus berambut ikal
Berjalan...
Dijuluki ia teman para domba yg bodoh

Lihat dia nimang
Bocah cacat
Tatapnya tak berhenti pada langit
Dia nimang...
Si gembala domba yang usang

[Peri Dan Gembala Usang]

Jumat, 08 April 2011

~Lambai Dukaku, Pak~

Untuk mbah marijan

Kami berlambai duka Pak...
Dengan pipih salam tertitip serpihan pasir...
Mengenang sketsa tawa kau...
Sebelum telaga api menyurak keras lalu...
Namun hendak tak tersentu tangan...
Akan tetapi tuhan menitipkan sebuah amanat kcil...
Tuk cerita mata kedepan...
Rahasia putih yg menyeru...
Untuk para pemimpi seperti arahan kami...
Selamat membingkai tawa pak...
Kami saksi sujudmu diselimut pasir lampau...

30 Oktober 2010

~Penantian Senja~

Lelaki menoleh pipi lembayung senja...
Dia terjatuh pada pasir-pasir pekat di ujung na'as...
Titih-titih berkali-kali lepas dari daunnya menyerpih terjatuh...
Sekujur mata mimpi buruk di pagi itu...

Lelaki itu menyanyi sumbam...
Perlahan enyah menangkup daun senja yang kosong...
Seperti lelaki yang buta akan mata angin ...
Seperti lelaki yang pincang dalam langkah...
Tiada angan para cahaya selain cerita merunduk malu...
Selain telunjuk menghinjak-hinjak senyumnya...
Ia pergi dalam pengasingan masa...

"Senja.. Senja... senja...
Aku akan duduk selamanya menantimu...
Aku tak akan beranjak dari sini hingga kau datang dalam nyata...
Aku perih teramat layu senja...
Aku ingin selayak kau yang di kagum-kagumi...
Aku ingin kau senja"... Seakan menjerit pada deru ombak menggenang mata kakinya...

Senja... pijaki ia yang pilu mata batinnya...
Lelaki pemimpi dalam penantian indah senja...

21 Januari 2011

MENYADARI PERIANG

menyadari periang
tampak langkah yang muram wajahnya
mungkin perkataan itu terlalu dia cernah
hingga catatannya tak tampak
seperti dia bisu dalam pasir

kenaliku dia berlari
tanpa sapa palingpun tinggalkan aku yang hendak berjabat tangan

kumohon seperti kau periang
kaji dulu kata" ini
kau terlalu baik mengenalkanku pada gemintang
kau tunjuk satu saja diujung telunjukmu

wajahku memerah lalu
kau tak juga berdiri dihadapanku
wahai kau periang
aku hanya bertutur tentang badai yg tak nyata
bukan ejek hinjakimu

dimana kau periang...
kembalilah... kembalilah kawan...

(Catatan Si faqir) 04 Januari 2011...

GEMBALA LAPAR

Sebut aku gembala lapar
Mencari makan
Menanti sisa-sisa tuan

Aku hanya gembala usang
Diantara raja-raja bangsawan
Diantara raja-raja yang lapar

Aku berdiri pada sekumpulan domba-domba hinaan
Diantara emas belukar sang raja-raja lapar
Sang raja penjilat keringat gembala usang

09-april-2011

TAMAN BELAJAR

Anak-anakku
Jiwanya hari esok yang indah
raganya bunga mekar
Hatinya slalu haus jutaan abjad

Anak-anakku menuai
Ia menuai berlian
Menggali cahaya hari-hari
Menggali cahaya berlari-lari

Anakku anak yang kuat
Inginnya sealam...
Sejauh pandang indranya
Sejauh mata bintang-bintangnya

Anakku...
Di taman belajarku....

Rabu, 06 April 2011

SAKURA MALANG

Lalu lalang semi berganti
Daun gugur lupa akan pohon-pohon menangis
Sakura itu bersedih
Sakura itu hanya menatap bayangan air

Hujan
Basuh aku dengan indah
Sakura ini telah rapuh
Sakura ini telah berlalu semi
Dia kedinginan pada belaian malam dibadai salju
Dia kedinginan.
Hatinya menggigil dalam ungkapan air sedih

Hujan
Kau pun tak brsahabat
Kau mencaci maki wajahnya yang muram
Kau tertawa pada indra yang lebam

Kalian puas rupanya...
Sakura telah pulang membawa luka...

KEMBALI TATAP PAGI

Pagi aku rindu kau
Anakmu sudah tersenyum meminang pepohonan yg jenuh
Perlhan berjalan menuju puncak
Kini pagi, aku melihatmu

Aku tertidur panjang
Aku lupa akan langit esok kian tertawa
Pagi aku ingin bertemu
Kini mataku tak terpejam berjalan

Aku sudah melihat kau
Aku sudah merasakan hangat anakmu
Peluk aku...
Peluk aku yang berlinang luka sekujur tubuh
Kini pagi, aku melihatmu...

KAMI BUKAN

kami bukan
Kurcaci-kurcaci malang
hay...
tak indah
mencari tuan pun sulit

air demi mentari
hujan memberontak
lalu angin
Petir-petir menampar

anggapan
kita berdiri
kucing betina berlari
itukah kau mencintai kami?????????????????

Selasa, 05 April 2011

NYANYIAN PENYAIR

Dilembah haru mendayu-dayu
Angin tak berkaki acuh menyapa
Dalam renungan bintang bisu
Dalam bingkai bulan waluku

Dia merabah langit
Memeluk isi alam
Merajut alas di ujung kepala bertinta

Dia bernyanyi
Dia menikmati merdunya
Dia memainkan jemarinya
Pada bunga" bermekar ia bernyanyi

ADAKAH INDAH

"Apakah lagu akan tetap merdu dalam nyanyianku?"
Malam itu kubertanya pada angin
Desahnya melaluiku
Aku malu teramat sangat

Mungkin angin tertawa
Mungkin malam terharu
Atau mungkin mereka tak menghiraukan nyanyian" sumbam ini

Lalu lalang bergeming
Tetap aku meninjau bungaku yang bercinta
Semakin sendu
Semakin sendu ia menhinjak riang bintang

RINDU PAGI

Pagi aku rindu kau
Anakmu sudah tersenyum meminang pepohonan yg jenuh
Perlhan berjalan menuju puncak
Kini pagi, aku melihatmu

Aku tertidur panjang
Aku lupa akan langit esok kian tertawa
Pagi aku ingin bertemu
Kini mataku tak terpejam berjalan

Aku sudah melihat kau
Aku sudah merasakan hangat anakmu
Peluk aku...
Peluk aku yang berlinang luka sekujur tubuh
Kini pagi, aku melihatmu...