Sabtu, 26 Maret 2011

Tak Tau Alur

Aku tak tau alur
Jalan panjang hanya semu menjadi gelap
Seraya aku tersesat di semak

Apa aku berperasaan padamu?
Atau hanya cincin yang jatuh?
Buktinya kau mesrah
Dan aku terkikis

Lalu apa ini buta?
Lalu dimana aku singgah?
Oh.. aku tak tau alur...
Aku tersesat...

Hanya Bintang Dan Bulan

Bintang...
Malam ini kalian cantik kulihat
Bertabur indah pada gelap
Hatiku jadi setitik embun tersenyum

Tapi bulan...
Wajahmu separuh
Seperti memurung dalam indah para bintang
Apa buat kau memurung?
Atau kau telah dimakan malam?
Atau kah ketakutanmu melebihi aku yg berdiri sendiri?

Oh bulan... Oh bintang
Walau sejauh tak berjabat
Kalian temanku.
Kalian malamku.
Kalian pesan tuhanku.

SENDIRI

Malam ini...
Ku tatap langit penuh jenuh
Bulan yang bersembunyi
Lalu ku cari pada kepalan jemariku

Aku berangan
Aku bersandar pada hawa
Malam ini tetap aku
Seperti kupandang bulan separuh di puncak malam

Malam ini...
Malam ini...
Tetap malam ini...

Aku bicara dengan bisu
Pandanganku hanya pohon yang angkuh
Malam yang kerdil
Dilembah haru malamku

KARMA

Angin datang dan pergi
Menyapu penggembala yang turun
Membelai lalu menampar
Mencinta dan menusuk hati

Hanya tanah dia membentang
jadi alas
bukan sebuah altar surga

Bocah itu berlutut
Mencaci catatan lalu
Memukul dengan kepalan
Hingga berdarah di puncak kejenuhan

Inilah sebuah daun gugur
Emas telah berlalu
Dan kini hanya kering tersapu angin

~Sentuh Dunia Sana~

Sentuh dunia sana
Begitu mencium kasih sayang
Bersayap kokoh
Bukan sebuah sayap-sayap patah

Apa kau tau jeritan sekumpulan semut?
Atau renungan para padi?
Kau hanya tau dirimu hidup
Bukannya kau tersesat dalam labirin tak berdinding
Bukan begitu?

Tinjaulah pelangi yang tersenyum
Jalan pada sebuah bacaan semesta
Mungkin dadamu terlalu membusung
Atau kau memang si kerdil yang tak berfikir...

Selasa, 22 Maret 2011

Gaun lusuh

Gaun merah terjatuh lusuh
Sudah usang lama menunggu
Dimana kau ratu?
Dimana kau ratu?

Tak sampai hati altar berdebu
Aurora ceritanya mati
Dia mati ditelan angin
Gaunnya tergeletak lusuh

Hanya jejak" tak terlihat
Terhempas entah kemana
Ku menanti didepan gaun lusuh
Sudah usang lama menunggu

Kamis, 17 Maret 2011

~Tak Tersampai~

Keyakinanku memuncak
Pelangi mulai jatuh berguguran
Hanya mendung kini sejauh menelusuri

Memangkah terlalu gelap?
Ataukah terlalu ketakutan dengan guntur yang berperang?

Tuhan..
Jika aku tak terbang
Atau tak mampu untuk terbang
Tuntun semilir angin membawaku
Biar aku jauh dibelantara haru
Bermain seruling sendu dengan batu yang ku duduki

Tuhan..
Inikah mimpi buruk yang bengis???..

~Tak mungkin Tau~

apakah kamu tau...
Kau pasti tidak tau menau tentang warna merah dilangit jasadku...
Kau pasti tak pernah tau tentang pilu...
Sebuah layu ingin merayu...
Namun pandangan ku tentang lilin...
kita berdua sudah terpisah pinang...
Kau tetap tak tau dan tak mau tau...
Hanya kau berikan bunga tak tampak terikat...
Lalu detik berapa kau akan tau?
Biarlah. biar hanya aku yang tau...

~Tak Terpeluk~

Sepertinya aku menyandang abu
Bersandar pada air diam
Memeluk angin yang jalang
Mataku sepi tak seperti tanganku memegang bulan
Apa daya hanya harapan yang melambai

Kau dik
Misteri terbesar catatanku
Namun sepertinya aku menyandang abu
Semestinya gaun putih tlah kau gena
Namun lain alur belukar
Tak seperti garis tangan tergenggam

~Benang Merah Sumbam~

Aku merajut benang merah
Dilembah kalbu
Kusapa terus kau dinda

mungkin...
rumah gubukku kau lekas berlari
ataukah pria ini terlalu dekil?
terlalu berdiri jauh dibawah pohon berlian

kau menjerit
sampai suaramu menyeruak direlung-relung
kau menggantikan mawarmu dengan bangkai musang
berlinang maki tak tampak
namun rasanya sudah membunuh aku

Aku merajut benang merah
Dilembah kalbu
Kusapa terus kau dinda